Ukuran teks
18

Ketika Pahlawan Menjadi Monster

Bayangkan ini: Tahun 1940. Anda duduk di ruang keluarga bersama orang tua, mendengarkan radio. Suara penyiar mengumumkan hasil pemilihan presiden Amerika Serikat. 

Franklin Delano Roosevelt—presiden yang dicintai, pemimpin yang membawa Amerika keluar dari Depresi Besar—kalah. 

Yang menang? Charles Lindbergh. 

Ya, Lindbergh. Pahlawan nasional yang terbang solo melintasi Atlantik. Wajahnya ada di koran, namanya di setiap bibir anak-anak Amerika. Dia simbol keberanian, inovasi, kejayaan Amerika. 

Tapi ada satu masalah kecil: Lindbergh bersimpati dengan Nazi Jerman. Dia pernah menerima medali dari Hermann Göring. Dia percaya Amerika harus tetap netral sementara Hitler membantai Eropa. Dan dalam pidato-pidatonya, dia sering menyalahkan Yahudi sebagai "penghasut perang." 

Sekarang dia presiden. 

Anda adalah Philip Roth, anak Yahudi berusia tujuh tahun di Newark, New Jersey. Dan malam itu—malam pemilihan 1940—Anda melihat ayah Anda, pria yang selalu kuat dan tenang, menangis untuk pertama kalinya. 

"Ini akhir dari segalanya," bisiknya kepada istri. "Mereka memilih dia. Amerika memilih dia." 

Inilah awal dari "The Plot Against America"—sebuah novel yang menanyakan pertanyaan menakutkan: Bagaimana jika fasisme datang ke Amerika bukan dengan tank dan seragam, tetapi dengan senyuman, bendera, dan janji untuk membuat Amerika hebat lagi? 

Philip Roth menulis buku ini pada tahun 2004. Tapi peringatannya terasa lebih relevan dari sebelumnya.

Mari kita lihat bagaimana demokrasi bisa runtuh—satu kebijakan, satu kebohongan, satu kompromi pada satu waktu.

 


1 dari 11