Ukuran teks
18

Pedang yang Hilang

Saint-Jean-Pied-de-Port, kota kecil di perbatasan Prancis-Spanyol. Januari 1986. 

Paulo Coelho—seorang penulis Brasil berusia 38 tahun—berdiri di awal jalur ziarah kuno yang sudah ada selama seribu tahun: Camino de Santiago

Di hadapannya terbentang 800 kilometer jalan setapak melintasi pegunungan Pyrenees, melewati desa-desa abad pertengahan, ladang gandum tak berujung, dan akhirnya mencapai Cathedral Santiago de Compostela. 

Tapi Coelho bukan peziarah biasa. Dia bukan mencari pengampunan dosa. Bukan mencari pencerahan religius. Dia mencari sesuatu yang jauh lebih personal—dan lebih aneh: 

Pedangnya. 

Bukan pedang biasa. Ini adalah pedang spiritual—simbol dari kekuatan dan kebijaksanaan yang seharusnya dia terima setelah bertahun-tahun belajar dalam tradisi mistis RAM (singkatan dari Rigour, Adoration, Meekness). Dia sudah menjalani semua ritual. Sudah menguasai semua ajaran. Sudah siap untuk upacara inisiasi final. 

Tapi pada malam upacara itu, di sebuah kastil tua di Brasil, sesuatu yang tidak terduga terjadi: Dia gagal

Ketika gurunya menyerahkan pedang kepadanya, tangan Coelho gemetar. Dia ragu. Dan dalam sekejap, gurunya merebut pedang kembali dan melemparkannya ke kegelapan. 

"Kamu tidak siap," kata gurunya dengan dingin. "Kamu sudah menguasai pengetahuan, tapi belum menguasai kebijaksanaan. Kamu harus mencari pedangmu sendiri." 

Dan dia memberikan instruksi yang tampaknya mustahil: "Jalan ke Santiago de Compostela. Ikuti jalur peziarah. Di sepanjang jalan, kamu akan bertemu dengan guide. Dia akan mengajarmu. Di akhir perjalanan, kamu akan menemukan pedangmu—jika kamu layak menerimanya."

Jadi di sinilah Coelho sekarang. Sendirian. Bingung. Tidak tahu apa yang dia cari, selain pedang yang hilang dan jawaban yang lebih dalam: Siapa sebenarnya dia? 

Perjalanan yang akan mengubah hidupnya—dan jutaan pembaca di seluruh dunia—baru saja dimulai.

 


1 dari 10