Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Telah Ditanyakan Selama 2.400 Tahun

Bayangkan Anda melihat biji oak jatuh ke tanah. 

Biji kecil itu, tidak lebih besar dari ibu jari Anda, mengandung kemungkinan—kemungkinan untuk menjadi pohon oak raksasa setinggi 30 meter dengan akar yang menembus tanah dan cabang yang menyentuh langit. 

Tapi sekarang, biji itu hanya biji. Kecil. Diam. Tidak bergerak. 

Pertanyaan sederhana namun mendalam: Bagaimana sesuatu yang kecil dan diam menjadi sesuatu yang besar dan hidup? Bagaimana perubahan terjadi? 

Atau lebih fundamental lagi: Mengapa ada sesuatu yang bergerak sama sekali, alih-alih semuanya diam selamanya? 

Ini pertanyaan yang ditanyakan Aristotle 2.400 tahun yang lalu di Athena. Dan jawabannya—yang dia tuangkan dalam karya monumental "Physics"—mengubah cara manusia memahami alam semesta selama lebih dari 2.000 tahun. 

Buku "Physics" bukan tentang fisika dalam pengertian modern—tidak ada rumus, tidak ada eksperimen laboratorium, tidak ada partikel subatomik. 

Ini adalah sesuatu yang lebih fundamental: filsafat tentang alam. Tentang bagaimana dunia bekerja. Tentang mengapa hal-hal berubah. Tentang apa yang membuat batu jatuh ke bawah dan api naik ke atas. Tentang waktu, ruang, dan gerak. 

Aristotle bertanya pertanyaan-pertanyaan yang masih kita tanyakan hari ini: 

● Mengapa segala sesuatu bergerak? 

● Apa itu waktu? 

● Apakah alam semesta punya awal? 

● Apakah ada tujuan dalam alam?

Mari kita masuki pikiran salah satu filsuf terbesar dalam sejarah—dan lihat bagaimana pemikirannya masih membentuk cara kita memahami dunia.

 


1 dari 11