Hari yang Mengubah Filsafat Selamanya
Athens, 399 Sebelum Masehi.
Di sebuah sel penjara yang sederhana, seorang pria berusia 70 tahun duduk tenang, dikelilingi murid-muridnya. Rantai besi yang mengikat kakinya baru saja dilepas. Dia menggosok pergelangan kakinya, tersenyum, dan berkata sesuatu yang aneh:
"Betapa lucunya hubungan antara rasa sakit dan kesenangan. Mereka tidak mau datang bersamaan kepada manusia, tapi jika seseorang mengejar yang satu dan menangkapnya, dia hampir selalu terpaksa mengambil yang lain juga—seolah keduanya terikat dalam satu kepala."
Pria itu adalah Socrates—filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Barat. Dan ini adalah hari terakhirnya.
Beberapa jam lagi, dia akan minum racun hemlock dan mati—dihukum oleh negara Athens atas tuduhan "merusak pemuda" dan "tidak percaya pada dewa-dewa kota."
Tapi anehnya, Socrates tidak sedih. Tidak takut. Tidak marah.
Dia justru menghabiskan jam-jam terakhirnya melakukan apa yang dia lakukan sepanjang hidupnya: berdiskusi tentang kebenaran.
Murid-muridnya—Phaedo, Simmias, Cebes, dan lainnya—duduk di sekitarnya, beberapa menangis, beberapa mencoba menahan air mata. Mereka tidak mengerti: Bagaimana bisa seseorang begitu tenang menghadapi kematian?
Dan Socrates pun menjelaskan.
"Phaedo" adalah dialog yang ditulis Plato untuk merekam percakapan luar biasa itu—percakapan tentang mengapa kita tidak perlu takut mati, mengapa jiwa kita abadi, dan mengapa filsafat sejati adalah latihan untuk kematian.
Ini bukansekadarcatatanhistoris. Ini adalahundanganuntukmemikirkanulangapaartinya hidup—danmati.