Ukuran teks
18

Menulis Melawan Kematian

23 Juli 1885. Sebuah cottage di pegunungan Adirondack, New York. 

Seorang pria berusia 63 tahun duduk di kursi, diselimuti selimut meskipun musim panas. Tenggorokannya digerogoti kanker yang sudah stadium akhir. Berbicara menyakitkan. Menelan menyakitkan. Bernapas menyakitkan. 

Di pangkuannya: tumpukan kertas dan pena. 

Dia sedang menulis. Berlomba dengan kematian. 

Pria ini adalah Ulysses S. Grant—jenderal yang memenangkan Perang Saudara Amerika, presiden dua periode Amerika Serikat, dan sekarang seorang pria bangkrut yang mencoba meninggalkan sesuatu untuk keluarganya. 

Dokter sudah memberitahu: mungkin beberapa minggu lagi. Mungkin beberapa hari. 

Tapi Grant punya misi terakhir. Dia harus menyelesaikan memoarnya. Bukan untuk kemuliaan—dia tidak peduli lagi tentang reputasi. Tapi karena keluarganya butuh uang, dan royalti dari buku ini adalah satu-satunya warisan yang bisa dia tinggalkan. 

Empat hari setelah menyelesaikan halaman terakhir, dia meninggal. 

Buku yang dia tulis—"Personal Memoirs"—tidak hanya menjadi bestseller yang menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Buku ini menjadi salah satu memoar militer terbaik yang pernah ditulis, dipuji oleh para sejarawan, dibaca oleh para jenderal, dan masih relevan 140 tahun kemudian. 

Ironisnya, pria yang menghabiskan hidup memimpin tentara ini tidak pernah ingin menjadi tentara. 

Mari kita mulai dari awal.

 


1 dari 13