Belanja Jeans yang Mengubah Segalanya
Barry Schwartz pergi ke toko untuk membeli jeans.
Tugas sederhana, kan? Masuk toko, pilih jeans, bayar, pulang.
Tapi ketika dia sampai di toko, sales menanyakan:
● "Mau yang slim fit, relaxed fit, easy fit, classic fit, atau baggy?"
● "Stone-washed, acid-washed, atau distressed?"
● "Button-fly atau zipper-fly?"
● "Tinggi pinggang reguler, rendah, atau tinggi?"
Schwartz berdiri di sana, bingung. Dia hanya ingin jeans biasa seperti yang dia beli 10 tahun lalu.
Setelah mencoba puluhan jeans selama satu jam, dia akhirnya membeli satu. Tapi alih-alih merasa puas, dia merasa lelah dan tidak yakin apakah dia membuat keputusan yang tepat.
Dia berpikir: "Dengan 100 pilihan, pasti ada yang lebih baik dari ini."
Momen itu memicu penelitian selama bertahun-tahun yang menghasilkan buku "The Paradox of Choice"—buku yang menantang salah satu keyakinan paling fundamental dalam masyarakat modern:
Lebih banyak pilihan = lebih banyak kebebasan = lebih bahagia.
Ternyata? Ini salah.
Lebih banyak pilihan seringkali membuat kita lebih cemas, lebih tidak puas, dan lebih tidak bahagia.
Selamat datang di paradoks pilihan.