Ukuran teks
18

Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya

"Oye, mija—kamu dengar aku?" 

Berapa kali Anda mendengar suara di telepon yang langsung membawa Anda kembali ke rumah—ke aroma masakan keluarga, ke bahasa yang terasa lebih hangat di lidah, ke tempat di mana Anda adalah cucu, bukan orang dewasa yang mencoba mencari tahu hidup? 

Mari—atau Luciana, tergantung siapa yang bertanya—duduk di apartemennya yang gelap di Miami, ponsel di telinga, mendengarkan suara neneknya membanjiri telinganya dalam campuran Spanyol dan Inggris yang tidak pernah benar-benar terpisah dalam keluarga imigran. 

Ini bukan panggilan telepon biasa. Ini adalah percakapan yang telah ditunda selama bertahun-tahun—tentang hal-hal yang tidak pernah dibicarakan, trauma yang disimpan dalam diam, kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk diakui. 

Dan semuanya terjadi karena ibunya akhirnya pergi. 

Tidak mati—pergi. Meninggalkan. Mengosongkan rumah dan menghilang tanpa penjelasan, meninggalkan Mari dengan pertanyaan yang telah dia simpan sejak kecil: "Mengapa ibu tidak pernah benar-benar mencintai aku?" 

Melissa Mogollon menulis "Oye" sebagai novel debut yang radikal dalam bentuknya—seluruh cerita adalah satu percakapan telepon panjang antara cucu dan nenek, berlapis dengan memori, trauma, dan kebenaran yang perlahan terungkap. 

Tapi ini bukan sekadar cerita tentang satu keluarga Kolombia di Miami. Ini adalah cerita tentang siapa pun yang pernah merasa terjebak di antara dua dunia—terlalu Kolombia untuk Amerika, terlalu Amerika untuk Kolombia. Terlalu banyak untuk beberapa orang, tidak pernah cukup untuk yang lain. 

Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika Anda akhirnya berani berkata: "Oye—dengarkan aku. Inilah kebenaranku."

 


1 dari 11