Wawancara yang Tersembunyi 72 Tahun
Bayangkan Anda menulis sebuah buku pada tahun 1938—tepat setelah kesuksesan fenomenal "Think and Grow Rich."
Bayangkan buku itu berisi rahasia paling dalam tentang mengapa orang gagal, mengapa mereka terjebak, mengapa mereka tidak pernah mencapai potensi penuh mereka.
Lalu bayangkan istri Anda melarang buku itu diterbitkan. Terlalu kontroversial, katanya. Terlalu berani. Terlalu berbahaya.
Jadi buku itu disimpan. Dalam laci. Dalam kegelapan. Selama 72 tahun.
Ini kisah nyata "Outwitting the Devil" karya Napoleon Hill.
Ditulis tahun 1938. Diterbitkan tahun 2011—41 tahun setelah Hill meninggal.
Apa yang membuat buku ini begitu kontroversial? Apa yang membuat keluarga Hill begitu takut untuk menerbitkannya?
Jawabannya sederhana dan mengejutkan: Hill menulis buku ini sebagai wawancara langsung dengan Iblis.
Bukan iblis dalam arti literal dengan tanduk dan garpu rumput. Tapi sebagai personifikasi dari semua hal yang menahan kita: ketakutan, keraguan, prokrastinasi, kebiasaan buruk, dan pola pikir negatif yang membuat kita terjebak.
Dalam wawancara fiktif yang brilian ini, Hill memaksa "Iblis" untuk mengungkap semua trik kotornya—setiap cara yang ia gunakan untuk mengendalikan 98% umat manusia.
Dan yang lebih penting: bagaimana 2% sisanya berhasil lolos.
Ini bukan buku agama. Ini buku tentang psikologi kesuksesan yang dibungkus dalam alegori yang powerful.
Seperti yang Hill sendiri tulis: "Ketakutan adalah musuh terbesar manusia. Lebih berbahaya daripada kemiskinan, lebih menghancurkan daripada penyakit."
Jadi mari kita masuki wawancara yang luar biasa ini. Mari kita dengarkan pengakuan "Iblis" tentang bagaimana ia mengendalikan kita.
Dan yang paling penting: mari kita pelajari bagaimana mengalahkannya.