Perahu Dayung vs. Kapal Pesiar
Warren Buffett suka menggunakan analogi saat mengajar di kelas bisnis: "Ini seperti perlombaan menyeberangi Atlantik antara perahu dayung dan kapal QE2."
Perahu dayung: Capital Cities Broadcasting, perusahaan media kecil dengan lima stasiun TV di pasar-pasar kecil.
Kapal QE2: CBS, raksasa media dengan stasiun-stasiun di pasar besar, sumber daya berlimpah, brand yang kuat.
Siapa yang menang?
Tiga puluh tahun kemudian, Capital Cities—perahu dayung itu—bernilai tiga kali lipat CBS.
$1 yang diinvestasikan dengan Tom Murphy, CEO Capital Cities, di tahun 1966 akan menjadi $204 di tahun 1996. Return 19,9% per tahun selama tiga dekade—hampir dua kali lipat S&P 500.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Bukan karena Murphy punya teknologi revolusioner. Bukan karena dia punya akses ke modal lebih banyak. Bukan karena dia jenius marketing.
Jawabannya sederhana tapi profound: Murphy adalah master dalam alokasi modal dan manajemen manusia.
Dan dia bukan satu-satunya.
William Thorndike, pendiri firma private equity dan lulusan Harvard dan Stanford, menghabiskan bertahun-tahun meneliti CEO yang performanya melampaui peers mereka. Dia menemukan pola mengejutkan: CEO terbaik bukan yang paling terkenal atau paling karismatik.
Mereka adalah outsiders—orang-orang yang menolak konvensi, mengabaikan Wall Street, dan fokus pada satu hal: menciptakan nilai per saham yang luar biasa untuk pemegang saham.
Buku "The Outsiders" menceritakan kisah delapan CEO ini. Rata-rata, mereka mengalahkan S&P 500 dengan faktor 20 kali lipat. Investasi $10.000 dengan masing-masing CEO, rata-rata, akan menjadi $1,5 juta dalam 25 tahun.
Ini adalah kisah mereka. Dan lebih penting lagi, ini adalah pelajaran yang bisa kita terapkan.