Ukuran teks
18

Kesalahan Finansial Terburuk dalam Hidupku

Tahun 2009. Di ruang kelas Wharton School, Adam Grant—profesor muda yang cerdas dan analitis—duduk mendengarkan pitch dari seorang mahasiswanya. 

Neil Blumenthal, tinggi dan ramah dengan rambut hitam keriting, sedang menjelaskan ide bisnisnya: menjual kacamata online. Empat teman yang ingin mengganggu industri kacamata yang dikuasai monopoli. 

Adam mendengarkan dengan saksama. Sebagai seorang profesor psikologi organisasi, ia bangga dengan kemampuannya menganalisis ide bisnis. Tapi semakin ia mendengar, semakin banyak red flags yang ia lihat. 

"Kalian menghabiskan seluruh musim panas untuk ini, kan?" tanya Adam. "Tidak, kami semua magang—just in case ide ini tidak berhasil," jawab Neil. "Oke, tapi kalian akan full-time setelah lulus?" 

"Tidak persis. Kami semua sudah punya backup jobs." 

Adam mengerutkan dahi. Dalam pikirannya, ini adalah tanda kurangnya komitmen. Entrepreneur sejati harus all-in. Mereka harus berani mempertaruhkan segalanya. 

Enam bulan kemudian, sehari sebelum peluncuran, website mereka masih belum siap. 

"Guys, kalian sadar kan—seluruh perusahaan kalian ADALAH website. That's literally all it is," kata Adam dengan frustrasi. 

Keputusannya sudah bulat: ia menolak untuk berinvestasi. 

Perusahaan itu akhirnya diberi nama Warby Parker. 

Setahun kemudian, GQ menyebutnya "Netflix of eyewear." Fast Company menamakannya perusahaan paling inovatif di dunia. Nilainya melampaui satu miliar dolar.

Adam menyebutnya "keputusan finansial terburuk yang pernah saya buat." 

Tapi kesalahan ini membawanya pada perjalanan untuk memahami: Apa sebenarnya yang membedakan originals—orang-orang yang mengubah dunia dengan ide-ide baru—dari orang biasa? 

Jawabannya mengejutkan. Dan ia menuangkannya dalam buku ini.

 


1 dari 10