Ukuran teks
18

Rahasia yang Tersimpan 29 Tahun

"Saya membenci tenis dengan kebencian yang gelap dan rahasia."

Ini bukan kata-kata pecundang. Bukan orang yang gagal dalam tenis. 

Ini adalah Andre Agassi—pemenang 8 Grand Slam, medali emas Olimpiade, salah satu dari hanya lima pria dalam sejarah yang memenangkan keempat turnamen Grand Slam (Australian Open, French Open, Wimbledon, US Open). 

Pada puncak karirnya, dia adalah salah satu atlet paling terkenal di dunia. Wajahnya di sampul majalah. Kontrak sponsorship puluhan juta dolar. Jutaan fans di seluruh dunia. 

Dan di dalam hatinya, dia membenci olahraga yang membuatnya terkenal. 

Bayangkan ini: Anda bangun setiap pagi untuk melakukan sesuatu yang Anda benci. Anda menghabiskan berjam-jam berlatih hal yang membuat Anda menderita. Anda menjadi yang terbaik di dunia dalam sesuatu yang tidak pernah Anda pilih. 

Anda terjebak dalam penjara kesuksesan Anda sendiri. 

Ini adalah kisah Andre Agassi. Tapi lebih dari itu, ini adalah kisah tentang apa yang terjadi ketika impian orang lain dipaksakan pada Anda—dan bagaimana menemukan jalan Anda sendiri meskipun terlambat. 

Di US Open 2006, pertandingan terakhir karirnya, dengan tubuh yang hancur dan punggung yang hampir tidak bisa bergerak, Agassi berdiri di lapangan yang sama di mana ayahnya pernah memasukkannya saat berusia 3 tahun. 

36 tahun di dunia tenis. 29 tahun sebagai profesional. Ribuan pertandingan. Jutaan bola yang dipukul. 

Dan baru sekarang, di akhir, dia akhirnya bisa mengatakan: 

"Saya mencintai tenis."

Tapi jalan ke sana? Itu adalah perjalanan yang menyakitkan.

Mari kita mulai dari awal—tempat di mana semuanya salah.

 


1 dari 11