Ukuran teks
18

Menulis di Tengah Kegelapan

Selandia Baru, 1940. Dunia sedang terbakar. 

Hitler menguasai sebagian besar Eropa. Stalin memerintah Uni Soviet dengan tangan besi. Jutaan orang mati dalam nama ideologi yang menjanjikan "masyarakat sempurna." 

Di ujung dunia yang jauh dari medan perang, seorang filsuf pengungsi Austria bernama Karl Popper duduk di mejanya, menulis. Dia tidak punya senjata. Tidak punya tentara. Hanya pena dan kertas. 

Tapi dia punya satu keyakinan yang kuat: Totalitarianisme tidak muncul dari ketiadaan. Ia memiliki akar intelektual yang dalam—dan akar itu bisa ditelusuri kembali ke beberapa pemikir paling dihormati dalam sejarah Barat. 

Popper mengajukan pertanyaan yang mengguncang: Bagaimana jika Plato—bapak filsafat Barat yang kita hormati—sebenarnya adalah musuh dari masyarakat terbuka? Bagaimana jika visi "republik ideal" Plato adalah blueprint untuk totalitarianisme? 

Dan Marx—yang jutaan orang ikuti sebagai nabi pembebasan—bagaimana jika teori sejarahnya sebenarnya mengarah pada tirani yang sama? 

Ini bukan sekadar debat akademis. Ini adalah pertanyaan hidup dan mati. Karena ide-ide memiliki konsekuensi. Dan konsekuensi dari ide-ide buruk bisa berupa kamp konsentrasi, gulag, dan perang total. 

"The Open Society and Its Enemies" adalah upaya Popper untuk melawan totalitarianisme tidak dengan senjata, tetapi dengan argumen. Untuk membela kebebasan dengan menunjukkan bahwa musuh-musuhnya—dari Plato hingga Marx—dibangun di atas fondasi filosofis yang cacat. 

Lebih dari 80 tahun kemudian, dalam era di mana demokrasi kembali terancam dari berbagai arah, buku ini tetap relevan.

Mari kita mulai dengan pertanyaan paling mendasar: Apa itu masyarakat terbuka?

 


1 dari 12