Ukuran teks
18

Malam yang Mengubah Segalanya

Suatu malam di awal musim panas, seorang pemuda Jepang berusia 25 tahun berdiri sendirian di tebing menghadap pelabuhan Yokohama. 

Namanya Masanobu Fukuoka. Lulusan mikrobiologi dari universitas bergengsi. Inspektur kesehatan tanaman pemerintah dengan masa depan cemerlang. Orang yang percaya pada sains, teknologi, dan kemajuan. 

Tapi malam itu, setelah berhari-hari bergulat dengan pertanyaan eksistensial yang membuatnya hampir gila, sesuatu terjadi. 

Dia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Tidak ada cahaya terang. Tidak ada suara dari langit. Hanya... kekosongan yang penuh

Semua pengetahuan yang dia kumpulkan—semua teori, semua metode ilmiah, semua pemikiran yang rumit—tiba-tiba terasa seperti ilusi. Seperti seseorang yang mencoba menangkap air dengan jaring. 

Dalam sekejap, dia mengerti: Manusia tidak tahu apa-apa. 

Bukan dalam arti pesimis. Tapi dalam arti yang membebaskan. Semua usaha manusia untuk "memperbaiki" alam sebenarnya hanya menciptakan masalah baru yang kemudian harus diperbaiki lagi. Lingkaran setan tanpa akhir. 

Alam sudah sempurna apa adanya. Yang diperlukan bukan "kemajuan"—yang diperlukan adalah kembali ke kesederhanaan

Pagi itu, Fukuoka meninggalkan karirnya di kota. Dia kembali ke desa kecil di pulau Shikoku, ke kebun jeruk keluarganya. Dan di sana, selama 50 tahun berikutnya, dia membuktikan sesuatu yang dianggap mustahil:

Anda bisa bertani tanpa membajak. Tanpa pupuk kimia. Tanpa pestisida. Tanpa rumput liar. Dan mendapatkan hasil yang sama—bahkan lebih baik—dari pertanian modern yang rumit. 

Dia menyebutnya "natural farming"—pertanian alami. Atau dalam kata-katanya sendiri: "do-nothing farming"—pertanian tidak-melakukan-apa-apa. 

Ini bukan buku tentang teknik bertani. Ini adalah buku tentang filosofi hidup. Tentang kebijaksanaan yang terlupakan. Tentang revolusi yang dimulai dari satu batang jerami. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 9