Pertanyaan yang Terlambat Kita Tanyakan
Siapa yang ingin Anda temui jika diberi satu hari lagi?
Satu hari untuk mengatakan hal-hal yang tidak sempat dikatakan. Untuk meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah diperbaiki. Untuk memeluk orang yang sudah tidak bisa dipeluk lagi.
Satu hari. Hanya satu.
Bagi kebanyakan kita, jawabannya sama: ibu kita.
Karena tidak peduli seberapa rumit hubungan kita dengan ibu, tidak peduli berapa kali kita membantah atau mengecewakan—ada lubang dalam hati kita ketika dia pergi. Lubang yang berbentuk persis seperti pelukan hangatnya, suaranya yang memanggil nama kita, tangannya yang menyentuh pipi kita.
Dan ketika dia sudah tiada, barulah kita menyadari berapa banyak yang ingin kita katakan. Berapa banyak yang ingin kita tanyakan. Berapa banyak yang ingin kita perbaiki.
Tapi sudah terlambat.
Atau mungkin belum?
"For One More Day" adalah kisah tentang Chick Benetto—seorang pria yang hidupnya hancur total, yang mencoba bunuh diri, dan yang secara ajaib mendapat satu hari lagi bersama ibunya yang sudah meninggal delapan tahun lalu.
Satu hari untuk memahami. Satu hari untuk memaafkan. Satu hari untuk mengatakan hal-hal yang seharusnya dikatakan bertahun-tahun lalu.
Ini bukan cerita tentang keajaiban supernatural. Ini cerita tentang keajaiban yang terjadi ketika kita akhirnya melihat orang yang selama ini kita abaikan.
Mari kita mulai dengan akhir—karena kadang, kita baru menghargai sesuatu ketika kita hampir kehilangannya selamanya.