Mengapa Diet Anda Selalu Gagal
Bayangkan ini: Anda bangun pagi dengan niat kuat. Hari ini berbeda. Hari ini Anda mulai diet.
Sarapan: telur rebus dan sayuran. Makan siang: salad dengan dada ayam panggang. Makan malam: ikan dan brokoli kukus. Tidak ada nasi. Tidak ada gula. Tidak ada gorengan.
Anda menghitung kalori dengan teliti. Aplikasi di ponsel mengatakan Anda hanya makan 1.200 kalori—jauh di bawah kebutuhan harian. Anda juga jogging 30 menit. Membakar 300 kalori lagi.
Besok pagi, Anda naik timbangan dengan penuh harap.
Berat turun 200 gram. Lumayan.
Minggu kedua, masih turun. Semangat!
Tapi minggu ketiga, berat stuck. Tidak bergerak. Padahal Anda masih makan sedikit. Masih olahraga.
Minggu keempat, berat malah naik sedikit. "Mungkin air," pikir Anda.
Bulan kedua, Anda mulai merasa lelah. Lapar sepanjang waktu. Sulit konsentrasi. Teman menawarkan kue, Anda tolak. Tapi di malam hari, sendirian di kamar, Anda buka lemari es dan... selesai. Anda makan semua yang Anda hindari selama berminggu-minggu.
Bulan ketiga, berat Anda kembali seperti semula. Bahkan mungkin lebih berat.
Anda menyalahkan diri sendiri. "Saya tidak punya disiplin." "Saya lemah." "Saya gagal lagi."
Tapi inilah kebenaran yang akan mengubah segalanya:
Bukan Anda yang gagal. Itu dietnya yang gagal.
Dr. Jason Fung, seorang dokter nefrologi (spesialis ginjal) dari Kanada, menghabiskan lebih dari satu dekade merawat pasien obesitas dan diabetes tipe 2. Dia melihat pola yang sama berulang kali: pasien mengikuti nasihat konvensional—makan lebih sedikit, olahraga lebih banyak—dan semuanya gagal.
Lalu dia bertanya pada diri sendiri: "Apa yang salah dengan model kita tentang obesitas?"
Jawabannya radikal: Obesitas bukan masalah kalori. Obesitas adalah masalah hormon.
Dan hormon utama yang harus Anda pahami adalah insulin.
Mari kita mulai dengan membongkar mitos terbesar tentang penurunan berat badan.