Ketika Semua Orang Jadi Jenius Keuangan
Bayangkan tahun 2021. Teman Anda yang dulu kerja biasa-biasa saja tiba-tiba posting foto di depan Lamborghini. Caption-nya: "Thanks crypto 🚀"
Tetangga Anda yang seminggu lalu nanya cara buka email sekarang menjelaskan tentang "blockchain technology that will change the world." Dia yakin Bitcoin akan jadi 1 miliar rupiah per keping.
Sopir Uber Anda bertanya: "Sudah invest di kripto belum, pak? Saya kemarin untung 300% dalam sebulan!"
Dan Anda berpikir: "Apakah saya yang bodoh? Apakah saya melewatkan kesempatan seumur hidup?"
Ini yang terjadi di puncak demam kripto. Semua orang merasa jenius. Semua orang kaya—di atas kertas. Dan semua orang yakin angka akan terus naik.
Zeke Faux, reporter investigatif Bloomberg Businessweek, tidak yakin. Dia melihat fenomena ini dan mengajukan pertanyaan sederhana tapi fundamental:
"Jika semua orang menghasilkan uang, dari mana uangnya datang?"
Untuk mencari jawaban, dia melakukan investigasi selama dua tahun. Dia terbang ke pulau-pulau tropis mencari cadangan Tether. Dia bertemu dengan scammer, CEO misterius, dan influencer kripto. Dia menghadiri konferensi kripto yang lebih mirip festival musik. Dia bahkan masuk ke komunitas "Bored Ape" yang membeli gambar monyet digital seharga miliaran rupiah.
Dan yang dia temukan mengejutkan: Sebagian besar dunia kripto adalah ilusi yang dibangun di atas hype, kebohongan, dan harapan bahwa akan selalu ada orang bodoh berikutnya yang membeli dengan harga lebih tinggi.
Ini bukan cerita tentang teknologi blockchain yang revolusioner. Ini cerita tentang bagaimana jutaan orang—termasuk orang pintar—bisa ditipu oleh narasi "number go up."
Mari kita mulai dari awal.