Ukuran teks
18

Pertanyaan yang Tidak Berani Kita Tanyakan

Mari kita mulai dengan angka yang tidak nyaman: 

● 1 dari 7 pria tidak punya satu pun teman. 

● Pria 3x lebih mungkin meninggal karena bunuh diri, overdosis, atau alkohol dibanding wanita. 

● 60% pria usia 18-24 masih tinggal dengan orangtua mereka. 

● Pria 33% lebih kecil kemungkinannya lulus kuliah dibanding wanita.

● Jumlah pria muda yang tidak sekolah dan tidak bekerja meningkat 3x lipat sejak 1980. 

Ini bukan statistik abstrak. Ini adalah krisis. 

Dan yang lebih buruk? Hampir tidak ada yang membicarakannya. 

Ketika Scott Galloway—profesor marketing NYU, entrepreneur sukses, pembawa acara podcast Pivot—mulai berbicara tentang krisis pria muda lima tahun lalu, responnya hostile. Dia dituduh misoginis. Dibilang menentang kemajuan perempuan. Dibilang bagian dari "toxic masculinity." 

Tapi Galloway tidak mundur. Karena dia melihat apa yang terjadi di kelasnya di NYU, di jalanan New York, di seluruh Amerika: Generasi pria muda sedang terpuruk—dan tidak ada yang membantu mereka. 

Lalu datang 2024. Donald Trump menang pemilu, didorong oleh suara pria muda yang merasa diabaikan, kesepian, frustrasi. Dan tiba-tiba semua orang bertanya: "Apa yang salah dengan pria muda kita?" 

Pertanyaan yang salah. 

Pertanyaan yang benar: Apa yang kita lakukan salah sebagai masyarakat sehingga pria muda kita gagal?

"Notes on Being a Man" adalah jawaban Galloway. Bukan manifesto politik. Bukan buku self-help murahan. Ini adalah operator's manual—panduan jujur, kadang menyakitkan, tapi penuh harapan tentang bagaimana menjadi pria di dunia modern. 

Dan ini dimulai dengan cerita Galloway sendiri—cerita yang tidak sempurna, tidak glamor, tapi sangat manusiawi.

 


1 dari 10