Ukuran teks
18

Musik dalam Badai

Bayangkan Anda seorang anak berusia sembilan tahun, duduk di teras rumah kayu sederhana di Kansas. 

Langit mulai gelap. Angin bertiup kencang. Badai akan datang—salah satu badai tornado yang terkenal menghancurkan rumah-rumah di Midwest Amerika. 

Tapi di dalam rumah, nenekmu sedang menyanyikan spiritual. Ibumu memelukmu. Dan ayahmu—meskipun dia jarang ada di rumah—kali ini kebetulan ada, memainkan gitar dan tertawa, tertawa, tertawa meskipun rumah kalian mungkin akan hancur dalam beberapa jam. 

Ini bukan tawa yang bodoh. Bukan tawa yang menyangkal bahaya. 

Ini adalah tawa yang mengatakan: "Kami mungkin miskin, kami mungkin tertindas, badai mungkin menghancurkan rumah kami—tapi mereka tidak bisa menghancurkan jiwa kami." 

Inilah inti dari "Not Without Laughter"—novel debut Langston Hughes yang diterbitkan tahun 1930, di tengah-tengah Depresi Besar dan segregasi rasial yang brutal di Amerika. 

Buku ini bukan tentang orang kulit hitam sebagai korban yang menyedihkan. Bukan tentang penderitaan tanpa akhir. Ini tentang keluarga yang hidup dengan martabat, musik, dan tawa—bahkan ketika dunia mencoba merenggut semuanya. 

Hughes menulis: "Kehidupan orang-orang kulit hitam di Amerika bukan hanya tentang kesedihan. Ada kegembiraan. Ada musik. Ada cinta. Ada tawa." 

Dan melalui mata seorang anak bernama Sandy Rogers, kita melihat bagaimana keluarga biasa—dengan semua kekuatan dan kelemahannya—bertahan, tumbuh, dan menemukan kegembiraan di tengah kesulitan. 

Mari kita masuk ke dunia Sandy.

 


1 dari 10