Ukuran teks
18

Ketika Burung Hantu Menikahi Kucing

Bayangkan ini: Seekor burung hantu jatuh cinta pada kucing cantik. Mereka berlayar ke laut dalam perahu kacang hijau, membawa madu dan uang. Burung hantu bernyanyi dengan gitar, kucing menari di bawah bulan. Mereka menikah dengan cincin dari hidung babi, dan resepsi pernikahan mereka dipimpin oleh kalkun di atas bukit. 

Ini absurd. Tidak masuk akal. Sama sekali tidak logis. 

Dan itulah gunanya. 

Tahun 1871, Edward Lear—seorang seniman lanskap yang serius, illustrator botani yang presisi, guru menggambar untuk Ratu Victoria—menerbitkan kumpulan puisi yang paling tidak masuk akal, paling konyol, paling nonsense yang pernah ditulis dalam bahasa Inggris. 

"Nonsense Songs" bukan hanya buku anak-anak lucu. Ini adalah manifesto tentang kebebasan. 

Kebebasan dari logika yang kaku. Kebebasan dari aturan yang membosankan. Kebebasan dari dunia Victorian yang terlalu serius, terlalu teratur, terlalu tertekan. 

Di era di mana segalanya harus "bermakna," harus "produktif," harus "berguna"—Lear menulis tentang Jumblies yang berlayar dengan saringan, Dong dengan hidung bercahaya, dan Pobble yang kehilangan jari kakinya. 

Dan yang luar biasa? 150 tahun kemudian, puisi-puisi absurd ini masih dibaca, dikutip, dan dicintai. Sementara ribuan buku "penting" dan "serius" dari era yang sama sudah terlupakan. 

Mengapa? 

Karena Edward Lear memahami sesuatu yang kebanyakan orang lupa: Kadang-kadang, nonsense adalah kebijaksanaan tertinggi.

Mari kita selami dunia yang terbalik, absurd, dan secara mengejutkan penuh makna dari Edward Lear.

 


1 dari 12