Pertanyaan Tertua di Dunia
Athena, 350 tahun sebelum Masehi.
Seorang pria berusia 54 tahun duduk di bawah pohon zaitun, dikelilingi oleh murid-muridnya. Namanya Aristotle—murid dari Plato, guru dari Alexander Agung, dan salah satu pemikir paling tajam yang pernah hidup.
Dia mengajukan pertanyaan sederhana:
"Apa tujuan dari kehidupan manusia?"
Bukan pertanyaan baru. Setiap orang yang pernah hidup bertanya pada diri sendiri: "Apa yang membuat hidup ini berharga? Apa yang saya cari?"
Para muridnya menjawab dengan berbagai jawaban:
"Uang!" "Kehormatan!" "Kesenangan!" "Kekuasaan!"
Aristotle mengangguk perlahan. "Tapi mengapa kalian ingin itu semua?" "Agar kami bahagia," jawab mereka.
"Dan mengapa kalian ingin bahagia?"
Hening. Karena tidak ada jawaban untuk itu. Kita ingin bahagia karena kita ingin bahagia. Kebahagiaan adalah tujuan akhir—hal yang kita kejar demi dirinya sendiri, bukan untuk hal lain.
Tapi kemudian Aristotle mengajukan pertanyaan yang lebih dalam, pertanyaan yang akan mengubah filosofi selamanya:
"Apa sebenarnya kebahagiaan itu? Dan bagaimana cara mencapainya?"
Selama puluhan tahun mengajar, dia mencatat pemikiran-pemikirannya. Catatan-catatan itu menjadi buku yang kita kenal sebagai "The Nicomachean Ethics"—panduan untuk hidup dengan baik yang ditulis 2.400 tahun lalu, tapi masih relevan hari ini.
Karena pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kehidupan tidak berubah. Dan jawabannya—meskipun tidak mudah—adalah abadi.
Mari kita mulai.