Sejarah yang Ditulis Ulang
Bayangkan Anda berdiri di atas gundukan tanah setinggi tiga puluh meter di tepi Sungai Mississippi. Di sekelilingnya, ribuan orang lalu-lalang. Ada pasar yang ramai, kuil megah di puncak bukit tanah, jalan-jalan yang terencana dengan rapi. Ini bukan kota di Eropa atau Asia. Ini adalah Cahokia — kota di jantung Amerika Utara, tahun 1050 Masehi.
Populasinya menyaingi London pada waktu yang sama. Arsiteknya membangun kalender matahari dari tiang-tiang cedar merah yang besar. Pedagangnya mengirimkan barang ke ratusan mil jauhnya. Warganya makan dengan baik, hidup teratur, dan punya cara sendiri untuk memahami alam semesta.
Lalu berabad-abad kemudian, ketika orang-orang Eropa tiba dan menemukan reruntuhan kota ini, mereka berkata: "Pasti ini bukan orang Indian yang membangunnya. Mereka terlalu primitif."
Itulah inti permasalahan yang coba dijawab Kathleen DuVal dalam buku ini.
Native Nations: A Millennium in North America bukan sekadar buku sejarah. Ini adalah koreksi besar atas cara dunia memandang bangsa-bangsa asli Amerika selama ratusan tahun. DuVal, profesor sejarah dari University of North Carolina yang memenangkan Pulitzer Prize untuk buku ini, mengajak kita melihat seribu tahun sejarah dari sudut pandang yang selama ini diabaikan: sudut pandang bangsa-bangsa yang sudah ada jauh sebelum Columbus menginjakkan kaki di benua ini.
Pesan utamanya sederhana tapi mengubah segalanya: Bangsa-bangsa asli Amerika bukan korban pasif sejarah. Mereka adalah pemain aktif yang berdiplomasi, berdagang, berperang, beradaptasi, dan bertahan — selama seribu tahun.
Mari kita ikuti perjalanan luar biasa ini.