Telepon di Tengah Malam dan Aroma Pemutih
Bayangkan Anda sedang menikmati makan malam yang tenang ketika ponsel berdering.
Nama "Ayoola" muncul di layar—adik Anda yang cantik, manja, dan... bermasalah.
Anda sudah tahu apa artinya panggilan ini sebelum mengangkatnya. Suara yang terdengar di ujung sana bukan panik atau ketakutan. Suaranya datar, hampir bosan:
"Korede, aku butuh bantuan."
Lagi.
Dan Anda—Korede—tahu persis apa yang akan Anda lakukan. Seperti dua kali sebelumnya.
Anda akan mengambil tas dengan perlengkapan khusus: sarung tangan karet, bleach, tisu, kantong plastik. Anda akan berkendara melintasi Lagos dalam gelap malam. Anda akan membersihkan lantai yang berlumuran darah. Anda akan membantu membungkus mayat pacar ketiga adik Anda seperti mumi. Anda akan memasukkannya ke bagasi mobil yang—untungnya—cukup besar untuk satu tubuh dewasa.
Dan besok pagi, Anda akan kembali ke rumah sakit, mengenakan seragam perawat putih Anda yang bersih, dan bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.
Karena itulah yang dilakukan kakak yang baik, bukan?
Selamat datang di dunia "My Sister, The Serial Killer"—di mana cinta keluarga bertemu pembunuhan, dan normalitas berpadu dengan kengerian dalam cara yang paling mengerikan sekaligus menggelikan.
Oyinkan Braithwaite menciptakan thriller psikologis yang akan membuat Anda tertawa, merinding, dan mempertanyakan sejauh mana Anda akan pergi untuk melindungi orang yang Anda cintai—bahkan ketika mereka adalah pembunuh berantai.
Mari kita mulai dari awal. Dari bleach dan darah di lantai apartemen mewah Lagos.