Pertanyaan yang Membuat Kiyosaki Bangkrut
1979. Robert Kiyosaki duduk di kantor kosong yang dulu ramai. Mejanya masih ada. Kursinya masih ada. Tapi semua orang sudah pergi.
Bisnisnya—yang pernah menghasilkan jutaan dollar dan mempekerjakan ratusan orang—bangkrut. Hancur total. Dia bukan hanya kehilangan uang. Dia kehilangan kredibilitas. Kehilangan kepercayaan investor. Kehilangan mimpi.
Dan yang lebih menyakitkan: dia kehilangan timnya.
Duduk sendirian di kantor yang sepi itu, Kiyosaki mengajukan pertanyaan yang akan mengubah hidupnya:
"Apa yang salah? Mengapa saya gagal?"
Dia punya produk bagus—dompet nilon untuk surfing yang inovatif. Dia punya marketing yang kuat—produknya masuk ke toko-toko besar. Dia punya uang—investor berbaris untuk mendanai.
Tapi bisnisnya tetap hancur.
Butuh bertahun-tahun sebelum dia menyadari jawabannya. Dan jawabannya mengejutkan:
Dia gagal bukan karena kurang uang. Dia gagal karena tidak punya tim yang tepat.
Dia mencoba melakukan semuanya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana membangun sistem. Dia tidak punya advisor yang berpengalaman. Dia tidak memahami legal dan akuntansi. Dia berpikir entrepreneur yang hebat bisa melakukan segalanya.
Dia salah.
Tiga puluh tahun kemudian, setelah membangun kerajaan bisnis Rich Dad senilai ratusan juta dollar, Kiyosaki menulis buku ini dengan satu pesan yang sangat jelas:
"Uang penting. Tapi tim yang tepat jauh lebih penting daripada uang."
Buku ini bukan tentang bagaimana menghasilkan uang. Buku ini tentang sesuatu yang lebih fundamental: bagaimana membangun tim yang akan membuat uang mengikuti Anda.
Mari kita mulai dengan pertanyaan yang sama pentingnya dengan yang Kiyosaki tanyakan di kantor kosong itu.