Ukuran teks
18

Runtuhnya Seorang Raja

Ruang sidang ramai. Semua mata tertuju pada sosok di podium—Julian Mantle, pengacara paling ditakuti di kota. Jas Armani yang sempurna. Jam Rolex berkilau. Percaya diri yang memancar. 

Tapi ada yang tidak beres. 

Wajahnya pucat. Keringat membasahi dahinya. Tangannya gemetar saat memegang dokumen. Napasnya tersengal. 

Kemudian, di tengah argumennya yang penuh semangat, Julian Mantle—manusia yang tampaknya tidak terkalahkan—runtuh. 

Jantung nya berhenti. 

Di usia 53 tahun, dengan semua kesuksesan duniawi yang bisa dibayangkan, Julian Mantle hampir mati di ruang sidang. 

Ia punya segalanya: mansion yang megah, pulau pribadi, jet pribadi, dan tentu saja, Ferrari merah menyala yang menjadi kebanggaannya. Ia punya uang. Ia punya kuasa. Ia punya prestise. 

Tapi ia tidak punya kebahagiaan. Ia tidak punya kedamaian. Ia tidak punya makna. 

Ketika berbaring di rumah sakit, terhubung dengan mesin-mesin yang menjaga nya tetap hidup, Julian membuat keputusan yang akan mengubah segalanya: Ia harus menemukan cara hidup yang berbeda. 

Tiga minggu kemudian, Julian menghilang. Tidak ada yang tahu kemana. Rekan kerjanya, John, mencoba menghubunginya berkali-kali. Tidak ada jawaban. 

Enam bulan. Setahun. Dua tahun.

Julian Mantle menghilang dari dunia yang pernah ia kuasai. 

Lalu, suatu malam, ketukan pintu mengejutkan John. Ketika ia membuka, sosok yang berdiri di sana hampir tidak bisa ia kenali. 

Bukan lagi pengacara berkelas dengan jas mewah. Di depannya berdiri seorang pria dengan jubah sederhana, wajah bercahaya, mata penuh kedamaian yang belum pernah John lihat sebelumnya. 

"Julian?" bisik John tidak percaya. 

Pria itu tersenyum—senyum yang tulus, penuh kehangatan. "Ya, John. Ini aku. Tapi aku bukan Julian yang dulu kau kenal." 

Malam itu, Julian mulai menceritakan kisahnya. Kisah tentang perjalanan ke Himalaya. Kisah tentang para Bijak di Sivana. Kisah tentang tujuh kebijakan hidup yang mengubahnya dari orang yang hampir mati menjadi orang yang benar-benar hidup. 

Dan John mendengarkan—seperti Anda sekarang—dengan hati terbuka, siap untuk belajar.

 


1 dari 13