Ketika David Menghadapi Goliath
Oakland, California, musim 2002. Di ruang operasi Oakland Athletics yang sederhana, Billy Beane, general manager tim baseball dengan budget terendah di liga utama, menatap spreadsheet di komputernya.
Angka-angka itu membawa berita buruk. Tiga pemain bintang timnya baru saja pergi: Jason Giambi ke New York Yankees, Johnny Damon dan Jason Isringhausen ke tim lain yang mampu membayar gaji puluhan juta dolar.
Total kehilangan: pemain bernilai $60 juta, yang menyumbang sekitar separuh performa ofensif tim tahun lalu.
Budget yang ia punya untuk menggantikan mereka? Sekitar $40 juta untuk SELURUH tim—kurang dari seperempat budget Yankees yang mencapai $126 juta.
Ini bukan hanya tidak adil. Ini mustahil.
Tapi Billy Beane punya ide gila: bagaimana kalau selama ini semua orang salah tentang cara menilai pemain baseball? Bagaimana kalau pasar sedang salah harga? Bagaimana kalau ada cara untuk mengalahkan raksasa—bukan dengan uang lebih banyak, tetapi dengan pemikiran yang lebih baik?
Musim 2002 Oakland Athletics tidak hanya mengubah baseball. Ini mengubah cara kita berpikir tentang value, data, dan keunggulan kompetitif di dunia mana pun.
Ini adalah kisah tentang bagaimana statistik mengalahkan intuisi. Tentang bagaimana outsider mengalahkan establishment. Tentang bagaimana David, dengan spreadsheet dan kalkulator, mengalahkan Goliath.