Ruang Rapat di Lantai 30
Tokyo, 2019. Alok Sama duduk di ruang rapat SoftBank, menghadap Masayoshi Son—salah satu investor paling powerful di dunia.
Di layar proyektor: angka-angka WeWork. Valuasi $47 miliar. Rugi operasional $1.9 miliar per tahun. Rencana IPO dalam beberapa bulan.
Masa Son tersenyum lebar. "WeWork akan menjadi investasi terbesar kami. Mereka akan mengubah cara dunia bekerja."
Alok melihat spreadsheet di laptopnya. Angka-angkanya tidak masuk akal. Model bisnisnya penuh lubang. CEO-nya, Adam Neumann, membakar uang seperti ada mesin cetak pribadi.
Tapi tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menantang.
Alok mengangkat tangan. "Masa-san, dengan segala hormat, saya pikir ada masalah fundamental dengan—"
Masa Son memotong. "Alok, kamu tidak melihat visi. Ini bukan soal angka hari ini. Ini soal masa depan."
Enam bulan kemudian, WeWork implode dalam salah satu kegagalan IPO paling spektakuler dalam sejarah. Valuasi turun dari $47 miliar menjadi kurang dari $8 miliar. Adam Neumann dipecat. SoftBank kehilangan miliaran dollar.
Dan Alok Sama duduk di mejanya, menulis buku ini.
Bukan untuk membeberkan drama. Tapi untuk menjawab satu pertanyaan penting:
Bagaimana kita semua—investor paling cerdas di dunia, banker paling berpengalaman, entrepreneur paling brilian—terjebak dalam ilusi uang yang sama?