Hari Terburuk Nora Seed
Selasa. Hari yang akan menjadi hari terakhir Nora Seed.
Bukan karena kecelakaan. Bukan karena penyakit. Tapi karena dia memutuskan—dengan penuh kesadaran—bahwa dia tidak ingin hidup lagi.
Pada usia 35 tahun, Nora merasa hidupnya adalah kumpulan kegagalan yang monumental:
Dia baru saja dipecat dari toko musik tempat dia bekerja. Kucingnya, Voltaire—satu-satunya makhluk yang tampaknya butuh dia—mati ditabrak mobil. Kakaknya tidak bicara dengannya lagi. Sahabatnya marah karena Nora membatalkan pernikahannya. Bandnya bubar karena dia keluar di momen penting.
Dan yang paling menyakitkan: setiap kegagalan ini terasa seperti konsekuensi langsung dari pilihannya.
Jika saja dia tidak membatalkan pernikahan dengan Dan. Jika saja dia tidak keluar dari band. Jika saja dia meneruskan karir renang olimpiade. Jika saja dia kuliah di tempat lain. Jika saja dia membuat pilihan berbeda di ratusan momen krusial hidupnya.
Setiap "jika saja" adalah pisau yang menusuk hatinya.
Jadi pada malam itu, di apartemen kecilnya di Bedford, Nora memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dia menulis catatan bunuh diri. Dia minum pil tidur—banyak sekali.
Dan kemudian... dia mati.
Atau setidaknya, seharusnya begitu.
Tapi alih-alih kegelapan atau cahaya terowongan atau apapun yang orang katakan tentang kematian, Nora terbangun di tempat yang sangat aneh: sebuah perpustakaan.
Bukan perpustakaan biasa. Ini adalah Perpustakaan Tengah Malam—tempat di antara hidup dan mati, di mana setiap buku adalah kehidupan yang bisa dia jalani jika dia membuat pilihan berbeda.
Dan di sanalah Mrs. Elm—pustakawan sekolah lamanya—menunggu dengan senyum lembut dan pertanyaan yang akan mengubah segalanya:
"Nora, kehidupan mana yang ingin kamu coba?"
Inilah kisah tentang wanita yang diberi kesempatan luar biasa: mencoba semua kehidupan yang tidak dia jalani. Dan menemukan bahwa kadang, kehidupan yang kita pikir "sempurna" ternyata tidak seperti yang kita bayangkan.
Mari kita masuk ke Perpustakaan Tengah Malam.