Pertanyaan yang Menghantui Setiap Manusia
Bayangkan Anda berusia 40 tahun. Anda melihat foto diri Anda saat berusia 20 tahun.
Wajahnya lebih muda. Kulit lebih kencang. Mata lebih cerah. Tidak ada kerutan. Tidak ada uban.
Lalu Anda melihat cermin hari ini. Perbedaannya tidak bisa disangkal.
Apa yang terjadi dalam 20 tahun itu?
Anda tidak jatuh. Tidak mengalami kecelakaan besar. Tidak sakit parah. Anda hanya... hidup.
Tapi entah bagaimana, sel-sel Anda berubah. DNA Anda sedikit rusak. Mitokondria Anda sedikit kurang efisien. Protein Anda sedikit lebih banyak yang salah lipat.
Anda sedang menua. Dan suatu hari, proses ini akan berakhir dengan kematian.
Tapi mengapa?
Ini pertanyaan yang menghantui manusia sejak kita bisa berpikir. Filsuf merenungkannya. Agama mencoba menjawabnya. Penyair menulis tentangnya.
Sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, sains mulai benar-benar memahaminya.
Venki Ramakrishnan—pemenang Hadiah Nobel dalam Kimia, salah satu ilmuwan paling cemerlang di dunia—menghabiskan karir memahami mesin kehidupan di level molekuler. Ribosom. Protein. DNA. Hal-hal fundamental yang membuat kita hidup.
Dan dalam "Why We Die," dia mengajukan pertanyaan yang lebih besar: Jika kita memahami bagaimana kita hidup, bisakah kita memahami mengapa kita mati? Dan jika kita memahami mengapa kita mati, bisakah kita menghentikannya?
Jawabannya mengejutkan, menghibur, dan sedikit menakutkan.