Panggilan Telepon yang Mengubah Segalanya
Bayangkan Anda sedang duduk di meja kerja, membuka laptop untuk memulai hari menulis seperti biasa. Kopi masih hangat di cangkir. Matahari pagi menyinari halaman rumah Anda di Martha's Vineyard. Hidup terasa normal, aman, dapat diprediksi.
Lalu telepon berdering.
Suara di ujung sana adalah seorang residen rumah sakit yang terburu-buru, lelah, tidak sabar. Dia memberitahu Anda dengan nada datar—seperti membacakan daftar belanjaan—bahwa suami Anda telah meninggal.
Tidak ada persiapan. Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada kesempatan untuk pamitan.
"Dia collapse di jalan... kami coba resusitasi di tempat kejadian... dibawa ke rumah sakit... tidak bisa diselamatkan."
Dan tiba-tiba, dalam hitungan detik, hidup yang Anda bangun selama 35 tahun—rencana pensiun bersama, menonton sunset di pantai, tumbuh tua berdampingan—semuanya runtuh.
Ini yang terjadi pada Geraldine Brooks pada Memorial Day 2019.
Suaminya, Tony Horwitz—penulis terkenal, pemenang Pulitzer, pria berusia 60 tahun yang sehat dan penuh energi—tiba-tiba meninggal karena serangan jantung di trotoar Washington D.C. saat sedang tur promosi bukunya.
Brooks, penulis pemenang Pulitzer untuk novel "March," tiba-tiba menjadi janda di usia 64 tahun. Dan apa yang dia temukan selanjutnya mengejutkan: budaya modern tidak memberikan waktu atau ruang untuk berduka dengan benar.
Alih-alih dibiarkan meratapi kehilangan, Brooks langsung dihadapkan pada birokrasi kematian: formulir asuransi, surat keterangan, perencanaan pemakaman, mengurus anak-anak, menangani media, menjawab telepon tak berujung.
Tiga tahun kemudian, dia menyadari: Dia belum benar-benar berduka.
Jadi dia melakukan sesuatu yang radikal dalam budaya Amerika: dia pergi sendirian ke sebuah gubuk terpencil di Flinders Island, Australia, selama berbulan-bulan untuk melakukan "pekerjaan yang belum selesai dalam berduka."
"Memorial Days" adalah catatan perjalanannya—dari cinta yang mendalam, hingga kehilangan yang menghancurkan, hingga penyembuhan yang pelan-pelan.
Mari kita mulai dari awal. Dari pertemuan dua orang muda di sekolah jurnalistik Columbia tahun 1983.