Ukuran teks
18

Makanan Paling Aneh yang Tidak Ada yang Pesan

Bayangkan Anda masuk ke restoran Italia favorit. Aroma bawang putih dan basil menyambut. Anda memesan menu spesial: bakso spageti dengan saus tomat rahasia keluarga yang sudah diturunkan tiga generasi. 

Kemudian pelayan datang dengan sesuatu yang aneh. 

Di atas bakso panas Anda yang harum—ada es krim vanilla, taburan cokelat, krim kocok, dan ceri merah di atasnya. 

Meatball Sundae. 

Anda menatap pelayan dengan bingung. "Apa ini?" 

"Oh," kata pelayan dengan bangga, "kami mencoba sesuatu yang baru! Sundae sedang tren. Semua orang suka sundae. Jadi kami pikir—mengapa tidak menambahkan sundae pada bakso kami?" 

Anda tidak tahu harus tertawa atau menangis. 

Tentu saja, es krim enak. Tidak ada yang salah dengan sundae. Dan bakso juga enak. Tapi digabungkan? Itu adalah bencana kuliner. Kombinasi yang tidak masuk akal. Pencampuran yang membuat keduanya rusak. 

Inilah yang terjadi dengan sebagian besar bisnis saat ini. 

Mereka punya produk tradisional (meatball)—dibuat dengan cara lama, dijual dengan cara lama, untuk pasar lama. 

Lalu mereka mendengar tentang alat marketing baru (sundae)—media sosial, viral marketing, blog, YouTube, influencer, personalisasi, platform digital.

Dan apa yang mereka lakukan? Mereka menggabungkannya. 

Mereka menempelkan Facebook page pada bisnis yang tidak dirancang untuk transparansi. Mereka memulai Twitter account untuk perusahaan yang tidak punya cerita menarik. Mereka mencoba viral marketing untuk produk yang tidak remarkable. 

Hasilnya? Meatball Sundae—kombinasi yang tidak cocok, yang membuat frustrasi semua orang dan tidak menghasilkan apa-apa. 

Seth Godin, salah satu pemikir marketing paling berpengaruh di dunia, menulis buku ini dengan satu pesan sederhana tapi radikal: 

"Marketing baru membutuhkan organisasi baru. Anda tidak bisa hanya menambahkan marketing modern pada bisnis kuno. Anda harus mengubah baksonya dulu." 

Mari kita pahami mengapa—dan apa yang harus dilakukan.

 


1 dari 8