Ukuran teks
18

Mengapa Repot-Repot Menikah?

Sarah, 28 tahun, duduk di kafe bersama sahabatnya. Mereka membicarakan masa depan. 

"Jujur," kata Sarah, "aku tidak yakin mau menikah. Lihat saja orang tuaku—mereka berdua tidak bahagia, tapi tetap bertahan karena 'sudah terlanjur menikah.' Lihat teman-temanku yang bercerai setelah 3 tahun. Untuk apa? Lebih baik aku fokus karir, punya apartemen sendiri, traveling sesuka hati. Aku bisa bahagia tanpa menikah, kan?" 

Sahabatnya mengangguk. "Lagipula, kenapa harus ada 'secarik kertas' untuk membuktikan cinta? Kalau saling cinta, ya sudah. Ngapain ribet?" 

Ini adalah pertanyaan yang semakin banyak orang ajukan hari ini. 

Statistiknya mengejutkan: Hampir sepertiga milenial mungkin tetap tidak menikah sampai usia 40 tahun. 25% mungkin tidak menikah sama sekali—proporsi tertinggi dalam sejarah modern. 

Mengapa? 

Dua alasan utama: stres ekonomi (merasa harus mapan dulu sebelum menikah) dan individualisme budaya (merasa pernikahan membatasi kebebasan pribadi). 

Pertanyaan Sarah sangat masuk akal: Mengapa repot-repot menikah? 

Dalam buku singkat tapi powerful ini, Timothy dan Kathy Keller—yang telah menikah selama 45 tahun—memberikan jawaban yang mengejutkan, praktis, dan penuh harapan. 

Mereka tidak menjual fantasi romantis. Mereka tidak menjanjikan "hidup bahagia selamanya" tanpa usaha. 

Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa pernikahan—jika dipahami dengan benar—adalah salah satu jalan terbesar menuju kedewasaan, kebahagiaan, dan makna yang lebih dalam.

Tapi hanya jika kita memahami untuk apa pernikahan sebenarnya dirancang.

Mari kita mulai.

 


1 dari 6