Anda Tidak Bisa Lari dari Diri Sendiri—Bahkan di Tengah Samudra
Bayangkan ini: Anda dan pasangan memutuskan untuk meninggalkan segalanya.
Pekerjaan yang membosankan. Kehidupan pinggiran kota yang monoton. Teman-teman yang tidak benar-benar memahami Anda. Rutinitas yang membuat Anda merasa mati rasa.
Anda menjual rumah, meninggalkan karir, membeli perahu, dan berlayar mengelilingi dunia menuju Selandia Baru—tempat yang Anda bayangkan sebagai surga baru, kehidupan baru, kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri Anda.
Kebebasan total. Petualangan. Romansa di laut lepas.
Lalu sebuah paus menabrak perahu Anda di tengah Samudra Pasifik.
Kapal tenggelam dalam hitungan menit. Semua yang Anda miliki—pakaian, makanan, rencana, impian—hilang bersama kapal yang karam.
Yang tersisa: rakit karet berukuran 1,5 x 1 meter. Beberapa kaleng makanan. Alat pancing darurat. Dan pasangan Anda.
Tidak ada radio. Tidak ada GPS. Tidak ada yang tahu di mana Anda berada. Anda mengapung di tengah samudra seluas 165 juta kilometer persegi.
Dan Anda harus bertahan. Bersama.
Berapa lama Anda pikir pernikahan Anda akan bertahan?
Satu minggu? Dua minggu? Sebulan?
Maurice dan Maralyn Bailey bertahan selama 118 hari.
118 hari di rakit kecil yang bocor. 118 hari memakan ikan mentah dan burung laut. 118 hari tanpa mandi, tanpa privasi, tanpa ruang untuk kabur dari satu sama lain.
Dan yang paling menakutkan: 118 hari tidak bisa lari dari diri mereka sendiri.
"A Marriage At Sea" karya Sophie Elmhirst bukan hanya kisah survival yang mengagumkan. Ini adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika Anda tidak bisa lagi bersembunyi—dari laut, dari pasangan, atau dari kebenaran tentang siapa Anda sebenarnya.
Karena ternyata, Anda bisa berlayar ke ujung dunia. Tapi Anda tidak bisa lari dari diri sendiri.
Mari kita mulai.