Ukuran teks
18

Cerita Dua Marketer

Ada dua orang yang berjualan produk hampir identik. 

Marketer A punya megaphone besar. Setiap hari dia berteriak: 

● "PRODUK TERBAIK!" 

● "DISKON 50%!" 

● "BURUAN SEBELUM KEHABISAN!" 

● "10.000 ORANG SUDAH MEMBELI!" 

Dia posting 10 kali sehari di semua platform. Dia kirim email blast ke 100.000 orang. Dia pasang iklan di mana-mana. Dia "hustle" keras. 

Hasilnya? Beberapa penjualan. Tapi sebagian besar orang mengabaikannya. Unsubscribe email. Skip iklannya. Sebagian bahkan merasa terganggu. 

Marketer B berbeda. Dia tidak punya megaphone. 

Tapi dia punya sesuatu yang lebih powerful: dia mengerti orang-orang yang dia layani. 

Dia tahu apa yang mereka takuti. Apa yang mereka impikan. Cerita apa yang mereka percaya tentang diri mereka sendiri. Dia tahu bahwa mereka bukan mencari "produk terbaik"—mereka mencari sesuatu yang membuat mereka merasa menjadi versi diri yang mereka inginkan. 

Jadi alih-alih berteriak, dia berbisik pada orang yang tepat di waktu yang tepat dengan pesan yang tepat. 

Dia membuat produk untuk kelompok kecil orang tertentu yang benar-benar membutuhkannya—bukan untuk semua orang. 

Dia tidak memaksa. Dia mengundang. 

Dia tidak menjual. Dia melayani.

Hasilnya? Pelanggan yang fanatik. Yang merekomendasikan ke teman-temannya. Yang menolak beralih ke kompetitor meski lebih murah. Yang merasa produknya adalah bagian dari identitas mereka. 

Seth Godin menulis "This is Marketing" untuk membunuh mitos bahwa marketing adalah tentang berteriak paling keras, beriklan paling banyak, atau menjangkau semua orang. 

Marketing yang sesungguhnya adalah tentang melihat—melihat orang lain, memahami mereka, dan menciptakan sesuatu yang mengubah mereka menjadi lebih baik. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 12