Malam Sebelum Kehancuran
Jerusalem, Juli 1099.
Besok pagi, pasukan Crusader akan menghancurkan tembok kota. Mereka datang dari jauh—dari Eropa—dengan pedang, api, dan keyakinan bahwa Tuhan ada di pihak mereka.
Semua orang tahu apa yang akan terjadi. Kota akan jatuh. Darah akan mengalir di jalanan. Keluarga akan tercerai-berai. Yang selamat akan menjadi budak atau pengungsi.
Ini adalah malam terakhir sebelum segalanya berubah.
Di alun-alun kota, ratusan orang berkumpul. Bukan untuk berdoa. Bukan untuk berperang. Tapi untuk mendengar.
Di tengah kerumunan, berdiri seorang pria bernama Copt—seorang bijak, seorang guru. Orang-orang datang kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendesak:
"Bagaimana kita menghadapi kekalahan?" "Mengapa orang yang kita cintai mengkhianati kita?" "Apa gunanya cinta jika segalanya akan berakhir?" "Bagaimana kita hidup ketika tidak ada yang pasti?"
Copt berdiri di sana, menatap wajah-wajah yang ketakutan, dan dia mulai berbicara.
Apa yang dia katakan malam itu—kebijaksanaan yang dia bagikan dalam menghadapi kehancuran—kemudian ditulis dalam sebuah manuscript dan dikubur di Accra. Manuscript itu ditemukan berabad-abad kemudian.
Ini adalah kebijaksanaan dari malam terakhir itu.
Paulo Coelho membawa kita ke momen historis yang dramatis ini bukan untuk mengajarkan sejarah, tapi untuk mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam: Bagaimana kita hidup dengan courage, cinta, dan makna ketika segalanya tidak pasti.
Karena sejujurnya, kita semua hidup di "malam sebelum kehancuran" dalam beberapa cara. Kita semua menghadapi ketidakpastian. Kehilangan. Ketakutan akan masa depan yang tidak kita kontrol.
Dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malam itu di Jerusalem—pertanyaan tentang kekalahan, cinta, pengkhianatan, keinginan, anxiety—adalah pertanyaan yang masih kita tanyakan hari ini.
Mari kita dengar apa yang dikatakan Copt.