Menyelamatkan Orang-Orang yang Terlupakan dari Sejarah
Bayangkan Anda membuka buku sejarah tentang Inggris abad ke-19.
Apa yang Anda baca? Kemungkinan besar: daftar raja dan ratu. Undang-undang yang disahkan Parlemen. Perang yang dimenangkan jenderal. Penemuan yang dibuat oleh penemu jenius.
Tapi di mana para tukang tenun yang kehilangan pekerjaan mereka karena mesin? Di mana para pekerja pabrik yang bekerja 14 jam sehari sejak usia tujuh tahun? Di mana para pengrajin yang melihat cara hidup mereka dihancurkan oleh industrialisasi?
Mereka tidak ada di buku sejarah.
Atau setidaknya, tidak ada sampai E. P. Thompson menulis "The Making of the English Working Class" pada tahun 1963.
Thompson memulai bukunya dengan pernyataan yang sederhana namun revolusioner:
"Saya berusaha menyelamatkan penenun yang malang, perajut stoking 'usang', pengrajin 'utopis', dan bahkan pengikut Joanna Southcott yang tertipu, dari penghinaan yang luar biasa besar dari anak cucu."
Ini bukan buku tentang raja atau ratu. Ini bukan tentang industri kapas atau mesin uap sebagai kekuatan abstrak.
Ini adalah buku tentang orang-orang biasa yang membuat sejarah mereka sendiri—bahkan ketika mereka tidak memiliki kekuasaan, kekayaan, atau suara dalam Parlemen.
Thompson menunjukkan bahwa antara tahun 1780 dan 1832, sesuatu yang luar biasa terjadi di Inggris: jutaan orang—tukang tenun, pandai besi, buruh, petani—yang tidak memiliki apa-apa
selain tenaga mereka, mulai melihat diri mereka sebagai satu kelas dengan kepentingan bersama.
Kelas pekerja tidak "muncul" seperti jamur setelah hujan. Mereka tidak "diciptakan" oleh pabrik-pabrik.
Mereka membuat diri mereka sendiri.
Dan dalam proses itu, mereka mengubah dunia.