Ukuran teks
18

Kaos Putih Seharga 15 Juta

Bayangkan ini: Anda melihat kaos putih polos di toko. Tidak ada yang istimewa—katun biasa, potongan standar, warna putih bersih. Seperti kaos yang bisa Anda beli di mall mana pun seharga 50 ribu rupiah. 

Tapi label di lehernya tertulis "Off-White." 

Dan harganya? 15 juta rupiah. 

Lebih mahal dari gaun pesta branded. Lebih mahal dari sepatu kulit buatan Italia. Lebih mahal dari tas tangan mewah. 

Siapa yang akan membeli kaos polos seharga mobil bekas? 

Ternyata, ratusan ribu orang. 

Mereka antri berjam-jam. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka memperlakukan kaos itu seperti karya seni yang langka. 

Mengapa? 

Karena di dada kaos itu, ada tulisan sederhana dalam tanda kutip: "WHITE" 

Dua tanda kutip. Satu kata. Sebuah pernyataan yang sekaligus pertanyaan: Apa itu "putih"? Siapa yang menentukan apa itu "luxury"? Mengapa sesuatu yang sederhana dianggap kurang bernilai? 

Inilah kejeniusan Virgil Abloh. 

Dengan kaos sederhana, dia tidak hanya menciptakan produk fashion—dia menciptakan percakapan tentang nilai, makna, dan siapa yang berhak menentukan apa yang "layak" di dunia luxury.

Robin Givhan, kritikus fashion pemenang Pulitzer Prize, menulis "Make It Ours" untuk menjawab satu pertanyaan yang mengganggu industri fashion sejak 2018: Bagaimana seorang pria kulit hitam tanpa pelatihan formal dalam menjahit atau pattern-making bisa menjadi direktur artistik Louis Vuitton? 

Jawabannya mengejutkan: Virgil Abloh tidak berhasil meskipun dia outsider. Dia berhasil karena dia outsider. 

Mari kita mulai dari Rockford, Illinois.

 


1 dari 11