Ukuran teks
18

Perempuan yang Membunuh Dirinya dengan Fantasi

Bayangkan Anda hidup dalam kehidupan yang tidak Anda inginkan. 

Suami yang baik—tapi membosankan. Rumah yang nyaman—tapi di desa terpencil. Kehidupan yang stabil—tapi tanpa gairah, tanpa petualangan, tanpa romansa yang berkobar seperti dalam novel-novel yang Anda baca. 

Setiap hari Anda bangun dengan perasaan yang sama: "Ini tidak seharusnya seperti ini. Hidup saya seharusnya lebih dari ini." 

Jadi Anda mulai mencari pelarian. Membeli gaun mahal yang tidak Anda butuhkan. Bermimpi tentang pria lain yang lebih menarik. Membayangkan kehidupan yang berbeda di kota besar, dengan pesta mewah dan percakapan cerdas. 

Dan perlahan—tanpa Anda sadari—fantasi mengambil alih kenyataan. 

Sampai suatu hari, Anda menyadari Anda sudah terlalu jauh. Hutang menumpuk sampai leher. Perselingkuhan yang Anda kira adalah cinta sejati ternyata hanya ilusi lain. Dan yang tersisa hanyalah kehancuran. 

Ini adalah kisah Emma Bovary. 

Pada tahun 1856, Gustave Flaubert menerbitkan novel yang akan mengubah sastra Prancis selamanya—dan hampir membuatnya dipenjara. "Madame Bovary" dianggap sangat skandal pada zamannya karena menggambarkan perselingkuhan dan kritik terhadap moralitas borjuis. 

Tapi pengadilan membebaskan Flaubert dengan satu alasan: novel ini adalah "peringatan moral" yang menunjukkan konsekuensi mengerikan dari hidup dalam ilusi. 

170 tahun kemudian, kisah Emma Bovary masih relevan. Mungkin bahkan lebih relevan.

Karena di zaman Instagram dan media sosial, kita semua—pada tingkat tertentu—adalah Emma Bovary. Membandingkan kehidupan nyata kita dengan fantasi yang kita lihat di layar. Merasa tidak puas. Mencari pelarian. Berharap kehidupan lain. 

Mari kita masuki dunia Emma Bovary—bukan hanya untuk memahami kisahnya, tetapi untuk memahami diri kita sendiri.

 


1 dari 11