Ukuran teks
18

51 Tahun, 9 Bulan, 4 Hari

Berapa lama Anda bisa menunggu seseorang yang Anda cintai? 

Satu tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? 

Florentino Ariza menunggu 51 tahun, 9 bulan, dan 4 hari. 

Sejak hari ketika wanita yang dicintainya—Fermina Daza—menolaknya dengan dingin dan mengatakan, "Lupakan saja," Florentino tidak pernah sedetik pun berhenti mencintainya. 

Dia menunggu. Dengan kesabaran yang hampir gila. Dengan kesetiaan yang membingungkan. Dengan keyakinan yang melawan segala logika. 

Dia menunggu sementara Fermina menikah dengan pria lain. Membangun keluarga dengan pria lain. Menua bersama pria lain. 

Dan ketika akhirnya suami Fermina meninggal—pada usia 76 tahun—Florentino datang ke pemakaman. Tidak untuk berduka. Tetapi untuk mengulangi pernyataan cintanya. 

"Fermina," katanya dengan suara bergetar tapi pasti, "aku telah menunggu kesempatan ini selama lebih dari setengah abad, untuk mengulangi kepadamu sekali lagi sumpah kesetiaanku yang abadi dan cintaku yang tak berujung." 

Gila? Romantis? Obsesif? Mulia? 

Gabriel García Márquez tidak memberi jawaban mudah. Sebaliknya, dia mengajak kita dalam perjalanan epik tentang cinta—dalam segala bentuknya yang indah, menyedihkan, absurd, dan abadi. 

"Love in the Time of Cholera" bukan sekadar kisah cinta. Ini adalah meditasi tentang apa artinya mencintai ketika waktu terus berjalan, tubuh menua, dan kematian semakin dekat.

 


1 dari 10