Ukuran teks
18

Malam Ketika Piring Melayang

Malam itu, Stasi Eldredge berdiri di dapur, gemetar menahan amarah. 

John—suaminya, pria yang dia cintai, yang dia nikahi 20 tahun lalu dengan penuh harapan—baru saja mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Lagi. Untuk kesekian kalinya minggu ini. 

Dan Stasi, yang biasanya menelan kekecewaan dengan senyuman, tiba-tiba meraih piring dari lemari dan melemparkannya ke lantai. 

Pecahan keramik bertebaran. Keheningan mengikuti. John membeku. Stasi menangis. 

Bukan karena piring. Tapi karena pernikahan mereka—yang dari luar terlihat sempurna: pasangan Kristen yang menulis buku, berbicara di konferensi, memberi nasihat tentang kehidupan rohani—terasa seperti medan perang yang melelahkan. 

Dan mereka tidak tahu bagaimana berhenti saling melukai. 

Mungkin Anda tahu perasaan ini. 

Mungkin Anda juga pernah berdiri di dapur—atau di kamar tidur, atau di mobil—dengan pertanyaan yang sama: "Mengapa orang yang paling saya cintai bisa membuat saya paling marah?" 

Mengapa pernikahan—yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia—sering terasa seperti zona perang? 

Mengapa pria yang membuat hati Anda berdebar dua puluh tahun lalu sekarang membuat Anda ingin berteriak? 

Mengapa wanita yang dulu membuat Anda merasa seperti pahlawan sekarang membuat Anda merasa seperti kegagalan?

John dan Stasi Eldredge menghabiskan lebih dari tiga dekade mencari jawaban—bukan dari buku teori, tapi dari pertempuran nyata di pernikahan mereka sendiri. 

Dan apa yang mereka temukan mengubah segalanya: 

Pernikahan bukan hanya tentang cinta. Pernikahan adalah cinta DAN perang.

Keduanya. Sekaligus. Selamanya. 

Dan begitu Anda memahami ini, Anda bisa berhenti bertarung melawan pasangan Anda—dan mulai bertarung bersama pasangan Anda melawan musuh yang sebenarnya. 

Mari kita mulai.

 


1 dari 11