Pil yang Seharusnya Menyelamatkanku
Umur 18 tahun. Johann Hari duduk di ruang praktik dokter, gemetar, menangis tanpa bisa berhenti.
"Saya tidak tahu apa yang salah dengan saya," katanya pada dokter. "Saya merasa... kosong. Seperti ada lubang besar di dada saya. Saya tidak bisa tidur. Saya tidak bisa fokus. Saya tidak ingin bangun pagi."
Dokter mendengarkan selama beberapa menit. Lalu dia menulis resep.
"Kamu punya depresi," katanya. "Tapi kabar baiknya, kita sudah tahu penyebabnya. Otak kamu kekurangan bahan kimia tertentu—serotonin. Pil ini akan memperbaiki ketidakseimbangan itu. Dalam beberapa minggu, kamu akan merasa lebih baik."
Johann minum pil pertamanya dengan penuh harapan. Dalam beberapa minggu, dia merasa lebih baik. "Akhirnya," pikirnya. "Masalahnya ada di otak saya. Dan sekarang sudah diperbaiki."
Dia minum antidepresan selama 13 tahun berikutnya.
Tapi ada masalah: Depresinya tidak hilang. Kadang lebih baik, kadang lebih buruk. Dosisnya naik. Jenis obatnya diganti. Tapi lubang di dadanya masih ada.
Dan yang lebih membingungkan: Semakin dia meneliti sebagai jurnalis, semakin dia menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Cerita yang dia dengar tentang depresi—cerita tentang ketidakseimbangan kimia di otak—mungkin bukan cerita yang lengkap. Bahkan mungkin bukan cerita yang benar.
Jadi dia memulai perjalanan selama tiga tahun melintasi dunia—dari Amerika ke Inggris, dari Berlin ke São Paulo—mewawancarai ilmuwan terkemuka, psikolog, psikiater, dan yang paling penting: orang-orang yang telah menemukan cara keluar dari depresi tanpa obat.
Apa yang dia temukan mengubah segalanya yang dia pikir dia tahu tentang depresi dan kebahagiaan.
Dan itulah buku ini.