Surat Perpisahan di Maroko
Maroko, 7 Januari 1997. Pukul 5:30 pagi.
Richard Branson terbangun sebelum istrinya, Joan. Dari seberang kota Marrakech, ia mendengar suara muezzin memanggil orang untuk sholat subuh.
Hari itu, ia akan mencoba sesuatu yang gila—mengelilingi dunia dengan balon udara. Peluang untuk mati? Cukup besar.
Ia merobek selembar kertas dari notebooknya dan mulai menulis surat kepada anak-anaknya, Holly dan Sam. Surat untuk berjaga-jaga kalau ia tidak kembali.
"Kehidupan kadang terasa tidak nyata," tulisnya.
Ini adalah Richard Branson—pria yang tidak pernah bisa berhenti mencari petualangan berikutnya. Yang tidak puas hanya duduk di kantor mengurus bisnis. Yang perlu merasakan adrenalin, risiko, kemungkinan kegagalan yang membuat hidup terasa benar-benar hidup.
Tapi untuk mengerti mengapa pria ini bisa berada di Maroko siap menantang maut, kita perlu kembali ke awal. Ke masa kecil seorang anak dyslexia yang dianggap bodoh oleh sekolahnya. Yang terakhir kali bertemu dengan kepala sekolahnya mendengar kata-kata: "Branson, kamu akan berakhir di penjara atau menjadi jutawan."
Ternyata, keduanya hampir terjadi.