Ukuran teks
18

Dua Anak, Dua Zaman, Satu Perjuangan

Bayangkan Anda berusia 11 tahun. 

Di suatu pagi yang tampak biasa, Anda duduk di dalam kelas ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan. Guru Anda berteriak, "Lari! Semuanya lari ke hutan! Jangan pulang ke rumah!" 

Dalam hitungan detik, hidup normal Anda berakhir. 

Ini yang terjadi pada Salva Dut pada tahun 1985 di Sudan Selatan. 

Sekarang bayangkan Anda gadis 11 tahun di tahun 2008. Setiap hari, sebelum matahari terbit, Anda sudah harus bangun dan berjalan selama 2 jam untuk mengambil air dari kolam yang jauh. Air yang keruh, kotor, penuh kuman. Tapi ini satu-satunya air yang tersedia. 

Setelah sampai di kolam, Anda mengisi wadah berat di kepala dan berjalan 2 jam lagi pulang. Ketika sampai rumah, air sudah habis terpakai untuk keluarga. Jadi Anda harus melakukan perjalanan yang sama lagi di sore hari. 

Setiap hari. Selama bertahun-tahun. 

Tidak ada waktu untuk sekolah. Tidak ada waktu untuk bermain. Hanya jalan kaki mencari air.

Ini yang terjadi pada Nya di Sudan Selatan. 

"A Long Walk to Water" adalah kisah dua anak ini. Salva dan Nya. Dipisahkan oleh 23 tahun waktu, tapi disatukan oleh perjuangan yang sama: bertahan hidup dalam kondisi yang hampir mustahil. 

Yang membuat kisah ini luar biasa bukanlah penderitaan mereka—tapi bagaimana mereka berubah dari korban menjadi pembawa harapan. 

Kisah Salva adalah kisah nyata. Dia salah satu dari "Lost Boys of Sudan"—ribuan anak laki-laki yang terpisah dari keluarga karena perang saudara dan berjalan ribuan mil melintasi Afrika untuk mencari tempat yang aman.

Kisah Nya adalah fiksi, tapi mewakili realitas jutaan anak perempuan Afrika yang kehidupannya didominasi oleh pencarian air bersih. 

Di akhir cerita, kedua kisah ini bertemu dengan cara yang akan mengubah hidup ribuan orang.

Mari kita mulai dari suara tembakan itu.

 


1 dari 12