Ukuran teks
18

"Kesepian? Kesepian?"

Bayangkan ini: Anda menelepon pulang dari kampus di pegunungan Vermont yang bersalju. Suara Anda bergetar. Air mata mengalir di wajah Anda yang dingin. 

"Aku kesepian, Dadaji," Anda berbisik ke telepon. 

Di ujung lain, di India yang hangat dan ramai, kakek Anda terdiam sebentar. Lalu dia berkata—dengan nada yang penuh kebingungan tulus: 

"Kesepian? Kesepian? Di Allahabad, kami tidak punya kesabaran dengan kesepian." 

Dan dalam satu kalimat itu, terungkaplah jurang yang memisahkan Anda dari rumah: Mereka tidak mengerti bagaimana seseorang bisa kesepian. Bukan karena mereka tidak peduli—tapi karena dalam dunia mereka yang penuh dengan keluarga besar, pembantu yang mondar-mandir, tetangga yang berkunjung tanpa undangan, dan kehidupan yang tumpah-ruah dengan kebisingan—kesepian adalah konsep asing. 

Tapi Anda, yang tumbuh di dunia itu namun kini hidup ribuan mil jauhnya, tahu sesuatu yang mereka tidak tahu: Anda bisa dikelilingi jutaan orang dan tetap merasa sendirian. 

Ini adalah awal dari cerita Sonia dan Sunny—dua orang muda India yang masing-masing mencari kebahagiaan di Amerika, masing-masing kesepian dengan cara yang berbeda, dan masing-masing belajar bahwa mencari tempat di mana Anda benar-benar belong adalah perjalanan yang lebih sulit dari yang pernah mereka bayangkan. 

Kiran Desai menulis The Loneliness of Sonia and Sunny sebagai epik tentang cinta, keluarga, dan alienasi di dunia modern yang terglobalisasi. Ini bukan hanya kisah romansa—ini adalah novel tentang apa artinya hidup di antara dua budaya, tentang bagaimana kita mencoba menemukan diri kita sendiri sambil membawa beban ekspektasi keluarga, sejarah, dan tradisi. 

Dan tentang menemukan bahwa kesepian—meskipun menyakitkan—terkadang adalah jalan menuju menemukan siapa Anda sebenarnya.

 


1 dari 10