Kota Terbesar, Kemiskinan Terdalam
London, 1850.
Ibu kota Kerajaan Inggris. Kota terbesar di dunia. Pusat perdagangan global. Jantung Revolusi Industri.
Di istana Buckingham, Ratu Victoria memerintah kerajaan terluas dalam sejarah—"kerajaan tempat matahari tidak pernah terbenam."
Di gedung-gedung megah Westminster, parlemen memperdebatkan masa depan peradaban.
Di pelabuhan Thames, kapal-kapal dari seluruh dunia membawa kekayaan yang tak terbayangkan.
Tapi berjalanlah lima menit dari kemegahan ini, dan Anda akan memasuki dunia yang berbeda—dunia yang sama sekali tidak terlihat oleh mereka yang hidup dalam kemewahan.
Dunia di mana anak berusia delapan tahun bekerja 14 jam sehari menjual selada air di jalanan.
Dunia di mana laki-laki dewasa berlutut di lumpur beracun Sungai Thames, mencari paku berkarat dan tulang untuk dijual.
Dunia di mana satu keluarga—ayah, ibu, dan empat anak—tidur di satu ruangan gelap berukuran 3x3 meter, tanpa jendela, tanpa ventilasi, dengan tikus yang lebih banyak dari manusia.
Ini adalah London yang tidak ada dalam buku sejarah. London yang tidak difoto. London yang tidak dilihat.
Sampai seorang jurnalis bernama Henry Mayhew memutuskan untuk melakukan sesuatu yang revolusioner pada zamannya: dia mendengarkan.
Bukan untuk bicara tentang orang miskin. Bukan untuk berbicara atas nama mereka. Tapi untuk membiarkan mereka berbicara dengan suara mereka sendiri.
Dari tahun 1849-1851, Mayhew turun ke jalanan London. Dia mewawancarai ribuan orang—pedagang kaki lima, penyapu jalan, pencari barang bekas, pelacur, pengemis, pemulung.
Dia mencatat kata-kata mereka dengan tepat. Dia bertanya tentang pendapatan mereka, pengeluaran mereka, harapan mereka, ketakutan mereka.
Dan dia menerbitkan semua ini dalam seri artikel yang kemudian menjadi buku "London Labour and the London Poor"—salah satu karya jurnalisme investigatif paling penting yang pernah ditulis.
Ini bukan sekadar buku tentang kemiskinan. Ini adalah monumen untuk martabat manusia yang terlupakan.
Mari kita masuki dunia mereka.