Gadis yang Tak Pernah Bohong
Bayangkan Anda adalah seorang anak berusia sebelas tahun yang dikenal di seluruh lingkungan karena satu hal: Anda tidak pernah berbohong.
Tidak pernah. Bahkan sekali.
Ketika anak-anak lain berbohong untuk menghindari hukuman, Anda mengakui kesalahan. Ketika mereka mengarang cerita untuk terlihat hebat, Anda hanya bercerita apa adanya. Ketika mereka mencuri permen dan menyangkal, Anda mengembalikan dan minta maaf.
Orang tua Anda bangga. Tetangga menghormati Anda. Guru-guru menjadikan Anda contoh. "Lihatlah Kifissia," kata mereka. "Dia tidak pernah bohong. Tidak pernah."
Anda hidup dengan reputasi ini seperti mahkota. Kebenaran adalah identitas Anda. Kebanggaan Anda. Satu-satunya hal yang membuat Anda istimewa di dunia yang penuh kebohongan.
Lalu perang datang.
Dan tiba-tiba, kebenaran—hal yang paling Anda banggakan—menjadi senjata yang digunakan untuk menghancurkan Anda dan semua yang Anda cintai.
Ini adalah kisah Kifissia, yang penduduk Salonika memanggil "Fif"—gadis kecil yang tak pernah bohong. Dan ini adalah kisah tentang bagaimana Holocaust mengajari kita bahwa kadang kebenaran bisa lebih kejam daripada kebohongan, dan kadang kebohongan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
"The Little Liar" adalah karya Mitch Albom yang paling gelap, paling menyakitkan, dan mungkin paling penting. Bukan tentang mimpi indah atau pertemuan ajaib. Ini tentang kegelapan terdalam kemanusiaan—dan cahaya kecil harapan yang entah bagaimana tetap menyala di tengahnya.
Mari kitamasukkedalamkisahyangakanmengubahcaraAndamelihatkebenaran selamanya.