Bayangkan Waktu Seperti Sungai
Tutup mata Anda sebentar dan bayangkan ini:
Anda berdiri di tepi sungai yang sangat panjang. Airnya mengalir dari jauh di belakang Anda—begitu jauh sehingga Anda tidak bisa melihat di mana ia dimulai. Dan ia mengalir ke depan Anda, terus mengalir, hilang di kejauhan yang tidak bisa Anda lihat ujungnya.
Sungai ini adalah waktu.
Di hulu sungai, jauh di kegelapan masa lalu, ada manusia gua yang pertama kali menemukan api. Ada raja-raja Mesir yang membangun piramida. Ada filsuf Yunani yang bertanya tentang arti hidup. Ada ksatria abad pertengahan yang bertarung untuk kehormatan.
Di hilir sungai, mengalir ke masa depan yang kita tidak tahu, ada cucu-cucu kita yang akan hidup di dunia yang tidak bisa kita bayangkan.
Dan Anda? Anda berdiri di sekarang—titik kecil di tengah-tengah sungai waktu yang tak berujung ini.
Inilah yang Ernst Gombrich ingin Anda pahami ketika dia menulis buku ini pada tahun 1935. Dia berusia 26 tahun, dan seorang teman memintanya menulis buku sejarah untuk putrinya yang sedang sakit. Dia punya enam minggu. Tidak cukup waktu untuk menulis buku sejarah akademis yang tebal dan membosankan.
Jadi dia melakukan sesuatu yang berbeda.
Dia menulis seperti seorang kakek yang bercerita kepada cucunya di depan perapian—dengan kehangatan, kejujuran, dan mata yang berbinar karena kagum terhadap petualangan besar umat manusia.
Buku ini bukan tentang menghafal tanggal. Bukan tentang raja-raja yang harus Anda ingat. Ini tentang melihat gambaran besar—melihat bagaimana kita, manusia, sampai di tempat kita berada hari ini.