Ukuran teks
18

Ketika Pahlawan Ternyata Manusia Biasa

Bayangkan seorang pria berusia 32 tahun, duduk sendirian di kamarnya. Di tangannya ada pisau. Teman-temannya sudah mengambil semua benda tajam dari kamarnya karena takut dia akan bunuh diri. 

Depresi yang dia alami begitu dalam sampai dia tidak bisa keluar rumah selama berminggu-minggu. Dia menulis surat kepada temannya: "Saya sekarang adalah orang paling menderita yang hidup. Jika apa yang saya rasakan didistribusikan merata ke seluruh keluarga manusia, tidak akan ada satu wajah ceria di bumi." 

Pria ini gagal dalam bisnis. Patah hati berkali-kali. Kalah dalam pemilihan lokal. Diejek karena penampilan fisiknya yang buruk—terlalu tinggi, terlalu kurus, wajah yang "jelek." Bahkan ketika akhirnya menikah, pernikahannya adalah neraka yang membuat dia lebih sering melarikan diri dari rumah daripada pulang. 

Siapa pria ini? 

Abraham Lincoln. 

Ya, Lincoln yang sama yang kita kenal sebagai salah satu presiden terbesar dalam sejarah. Lincoln yang membebaskan budak. Lincoln yang menyelamatkan Amerika dari perpecahan. Lincoln yang namanya diabadikan di monumen megah di Washington. 

Tapi Dale Carnegie—penulis terkenal "How to Win Friends and Influence People"—tidak tertarik menulis tentang Lincoln sang pahlawan. Carnegie menulis tentang Lincoln sang manusia

Manusia yang terluka. Manusia yang gagal. Manusia yang menderita depresi seumur hidup. Manusia yang seharusnya tidak mungkin sukses—tapi entah bagaimana, melawan segala rintangan, menjadi pemimpin yang mengubah dunia. 

"Lincoln The Unknown" adalah kisah yang jarang diceritakan. Kisah tentang bagaimana penderitaan membentuk karakter. Bagaimana kegagalan mengajarkan kebijaksanaan.

Bagaimana seorang yang patah berkali-kali bisa bangkit dan menyembuhkan bangsa yang patah. 

Ini bukan kisah kepahlawanan yang menginspirasi. 

Ini kisah kemanusiaan yang menghibur.

 


1 dari 11