Malam Ketika Presiden Kembali ke Pemakaman
Bayangkan ini: Malam yang dingin di bulan Februari 1862. Pemakaman Oak Hill, Washington D.C., diselimuti kegelapan. Di antara batu nisan dan makam keluarga yang megah, seorang pria berjalan sendirian.
Dia membuka pintu crypta—ruang penyimpanan jenazah sementara. Dia masuk. Dia membuka peti mati kecil. Dan dia mengangkat tubuh seorang anak laki-laki berusia 11 tahun.
Tubuh anaknya sendiri.
Abraham Lincoln—Presiden Amerika Serikat di tengah perang saudara yang paling berdarah dalam sejarah negara itu—memeluk jasad putranya, Willie, yang baru saja meninggal beberapa hari sebelumnya.
Dia tidak bicara. Tidak menangis dengan suara keras. Dia hanya memeluk. Seperti jika dia memeluk cukup erat, cukup lama, Willie akan kembali.
Saksi mata melaporkan Lincoln kembali ke pemakaman itu tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Di tengah malam. Sendirian. Untuk memeluk anaknya yang sudah mati.
Apa yang terjadi di malam-malam itu? Apa yang Lincoln rasakan? Apa yang dia pikirkan?
Dan—pertanyaan yang lebih aneh—apa yang Willie rasakan?
"Lincoln in the Bardo" adalah novel yang berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bukan dengan dokumenter sejarah. Bukan dengan biografi kering. Tapi dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya: melalui suara-suara orang mati yang mendiami pemakaman itu.
Ini adalah novel tentang kematian yang sebenarnya tentang kehidupan. Tentang kehilangan yang sebenarnya tentang cinta. Tentang melepaskan yang sebenarnya tentang menahan.