Ketika Dunia Runtuh, Cinta Dimulai
11 September 2001. Pagi yang mengubah segalanya.
Lucy, mahasiswa senior Columbia University, duduk di ruang kuliah menunggu dosen. Matanya tertuju pada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya sebelumnya—rambut gelap berantakan, mata cokelat yang dalam, tersenyum pada buku yang dibacanya.
Lalu seseorang membuka pintu dan berteriak: "Pesawat menabrak World Trade Center!"
Semua orang berlari ke atap gedung kampus. Dan di sana, mereka menyaksikan tower kedua ditabrak pesawat kedua. Asap hitam mengepul ke langit Manhattan. Dunia seakan berhenti.
Lucy berdiri di samping pemuda tadi. Tangannya gemetar. Tanpa kata, pemuda itu menggenggam tangannya.
"Namaku Gabe," katanya.
"Lucy," jawabnya.
Dan saat dunia di sekitar mereka runtuh, sesuatu di dalam mereka mulai tumbuh—sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
"The Light We Lost" adalah kisah tentang cinta yang datang di waktu yang salah. Tentang dua orang yang saling mencintai dengan cara yang berbeda. Tentang pilihan-pilihan yang kita buat—dan bagaimana pilihan itu menghantui kita selamanya.
Ini bukan kisah cinta fairy tale. Ini adalah kisah yang menyakitkan, rumit, real—tentang bagaimana kadang mencintai seseorang tidak cukup untuk membuat kalian bisa bersama.
Mari kita masuk ke perjalanan 13 tahun Lucy dan Gabe—cinta yang dimulai dengan tragedi, dan berakhir dengan kehilangan yang tidak pernah terbayangkan.