Malam yang Mengubah Segalanya
Laura Lynne Jackson berusia 26 tahun, duduk di ruang tamu rumahnya di Long Island, New York. Di hadapannya duduk seorang wanita bernama Christine yang baru saja kehilangan anaknya dalam kecelakaan tragis.
Christine datang karena putus asa. Dia mendengar Laura punya "kemampuan khusus"—kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang yang telah meninggal. Dia skeptis. Tapi rasa sakitnya lebih besar dari skeptisisme.
Laura menutup mata. Tarik napas dalam. Dan kemudian...
"Saya melihat anak laki-laki. Rambut coklat keriting. Dia menunjukkan sesuatu di lehernya... seperti kalung? Tidak, medali. Ada inisial 'C.M.' Dia bilang kamu memakai medalinya setiap hari sejak dia pergi."
Christine tersentak. Matanya berkaca-kaca.
"Dia ingin kamu tahu... dia tidak kesakitan. Dia bilang 'quick'—semuanya terjadi sangat cepat. Dan dia bilang... ada seseorang bernama 'Gigi'? Atau bunyi mirip itu? Dia bilang Gigi menunggunya."
Christine pecah menangis. "Gigi adalah neneknya. Dia sangat dekat dengan Gigi. Kami memanggilnya dengan nama itu sejak dia balita."
Selama satu jam berikutnya, Laura menyampaikan pesan demi pesan—detail spesifik yang tidak mungkin dia tahu. Tentang jersey baseball yang dikubur bersama anaknya. Tentang boneka beruang di dashboard mobil Christine. Tentang lagu yang Christine putar berulang-ulang.
Ketika Christine pergi malam itu, dia tidak hanya meninggalkan rumah Laura. Dia meninggalkan beban duka yang menghancurkan. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dia tersenyum.
Dan Laura? Dia menangis sepanjang malam—bukan karena sedih, tapi karena akhirnya dia mengerti mengapa dia diberikan kemampuan ini.
Selama bertahun-tahun, Laura menyembunyikan kemampuannya. Dia seorang guru sekolah. Ibu dari tiga anak. Orang "normal" yang tidak ingin dianggap aneh. Dia takut dihakimi. Takut tidak dipercaya.
Tapi malam itu, melihat transformasi Christine—dari putus asa menjadi damai—Laura membuat keputusan yang mengubah hidupnya:
Dia akan menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan, bukan menyembunyikannya karena takut.
"The Light Between Us" adalah hasil dari keputusan itu. Buku ini bukan tentang meyakinkan Anda untuk percaya pada kehidupan setelah kematian. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih universal:
Kita semua terhubung oleh cahaya—energi cinta yang tidak pernah mati. Dan jika kita membuka diri, kita bisa merasakan koneksi itu setiap hari.
Mari kita mulai.